Santa Mars

Laki-laki, 18 tahun

Malang, Indonesia

Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak Menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu.
::
Start
Windows 8 SM Versi 3
Shutdown

Navbar3

Search This Blog

Selasa, 16 Juli 2013

Lo(Ro)vaHolic


Lo(Ro)vaHolic
Aleo Vristila 

Aku hanya berani menatapnya dari jarak sejauh ini. Dia yang sedang bercanda gurau bersama teman lainya. Setiap gelak tawanya diikuti dengan kibasan rambutnya, sumpah itu keren BANGET.
Kami yang terdiri dari tujuh orang mahasiswa FH sedang menjenguk teman sekelas yang mengalami gejala thypus, maklum anak kost. Tiga orang perempuan dan empat orang laki-laki, Aku, Silvi, Dian, Dewo, Apis, Fajar, dan Angga. Kami menunggu didepan ruangan Rintan, mahasiswa yang sedang dirawat. Aku, Silvi dan Dian duduk di kursi panjang yang sama, sedangkan Dewo, Apis, Fajar dan Angga duduk berseberangan dengan kami.
Mungkin mereka juga sudah tau, aku SUKA sama APIS. Itu sebabnya kadang mereka mengolok kami, bahkan memberi kami ruang untuk saling mendekat, mungkin lebih tepatnya memberi aku. Seperti kali ini, mereka meninggalkan kami, Aku dan Apis berdua SAJA. “ Va, besok rambutnya jangan dipotong lagi ya …” Apis mengatakanya sambil mengacak rambutku pelan. “Apis, tuh kan rambut Rova kusut, emang kenapa pis kalo rambut Rova pendek?” aku merapikan kembali rambutku yang sedikit berantakan. “ Nggak apa-apa sih, cuman Apis suka aja liat cewek yang rambutnya panjang. Terus rova REBONDING deh.” Apis menatapku dalam, aku yang sadar dia sedang menatapku langsung mengalihkan pandanganku. “Pis, Rova boleh nanya sesuatu nggak?” aku masih belum berani menatap mukanya. “Nanya aja Va?” Apis mengalihkan pandanganya kedepan, setelah yakin dia tidak menatapku kini giliran aku yang menatapnya. “ Apis sebenarnya tau perasaan Rova nggak sih?” Apis terlihat tertarik mengenai topic yang akan kami bahas, ia kembali menatapku. “ Perasaan? Maksud Rova perasaan apa?” Apis mengerutkan keningnya. “ Perasaan Rova, kalo Rova … kalo Rova sayang Apis! “ aku sedikit menundukkan wajahku. Sepertinya Apis tidak terlalu terkejut dengan pernyataanku barusan. “ Apis juga sayang sama Rova, tapi Rova taukan Apis nggak mau orangtua Apis kecewa sama Apis.” Apis menatapku tajam, ada pancaran bersalah dari matanya, aku membalasnya dengan senyuman. “ Rova tau kok Pis, Rova ngerti. Makasih ya Apis mau sayang sama Rova, Apis mau balas BBM Rova, deket sama Rova.” Mataku mulai terasa perih, aku bersumpah akan menusuk mataku jika berani mengeluarkan air mata didepan Apis. “ Yaudah, kita susul yang lainya kedalam yuk” Apis menggandeng tanganku.
Sesampainya dikost aku tak tahan lagi, tumpah sudah semua air mataku. Kisah cintaku memang tak pernah semulus teman-temanku, tidak seperti Tyara yang dua minggu sekali bisa berganti-ganti pasangan, tidak seperti Silvi yang pacarnya cinta setengah mati padanya. Dari SMA kisah cintaku begini-gini saja, semua lelaki itu sama PHP-Pemberi Harapan Palsu. Di-SMA aku juga seperti ini, mencintai kakak kelas, diberi harapan dan buntutnya dia berpacaran dengan orang lain. Yang lebih menyakitkan lagi orang lain itu adalah seseorang yang sudah kuanggap sebagai adik sendiri.
***************
Sejak tadi aku hanya memandangi kedua sahabatku secara bergantian, Lian ke Tyara, Tyara ke Lian. Kudekati Lian yang sedang berkutat di depan Laptop Tyara, rupanya dia sedang membuka jejaring social yang sedang booming, TWITTER. Kudengar dia sedang dekat dengan teman dunia mayanya, seingatku namanya Febri. Ntah akan sampai kemana hubungan didunia maya seperti itu, apakan mereka akan berpacaran? Who know? “Yan …” aku mencoba mengusiknya. “Apasih Va, mau curhat? Nanti aja ya kalo udah mau bobo” tuh kan dia gak mau diganggu. Sekarang aku beralih ke Tyara, dia tampak senyum-senyum pada Blackberry barunya itu. Aku yakin dia bukanya tersenyum pada Blackberry-nya. Tapi pada pacarnya yang juga baru, Natan. Bisa dibilang mereka pasangan ter-COCOK satu sekolah, gimana nggak Natan tuh pujangganya SMA 25, udah sering dia ikut lomba buat puisi dan dia selalu keluar jadi JAWARA. Sedangkan Tyara tuh, pembaca puisi terfenomenal yang pernah dimilikin SMA 25 piala yang dia sumbangin untuk sekolah udah banyak banget.
Sudah aku putuskan untuk menunda acara curhatku. Aku melangkah keluar kamar, kulirik sekali lagi ternyata mereka tidak memperdulikan aku. “ Yan, Ty aku keluar bentar ya … “ mereka berdua dengan kompak menatapku. “ Oh, ya …” jawaban Lian sungguh singkat, kemudian ia melanjutkan lagi aktifitasnya. “ Mau kemana Va?” Tyara menanyaiku.” Keluar bentar …” kulanjutkan langkahku. “Hati-hati” suara Tyara terdengar samar ketika aku akan menutup pintu.
Aku tergolong siswa yang beruntung bersekolah di sekolah bertaraf internasional dan memiliki sisitem BOARDING SCHOOL. Hampir 60% siswa yang sekolah disini adalah mereka yang lulus dalam program beasiswa pemerintah, dan sisanya mereka yang memiliki kelebihan uang. Menurutku, aku tidak terlalu pintar dan tidak memiliki kelebihan yang spesifik tidak seperti kedua sahabatku Lian yang punya kelebihan dalam bidang hapalan dan Tyara yang mantap banget sama sastranya. Mungkin dengan sedikit keberuntungan dan do’a orang tua maka aku terpilih dalam deretan siswa SMA 25.
Aku menuruni tangga menuju lantai 2, kamarku Lian, Tyara serta anak kelas XII di lantai tiga, lantai 2 untuk anak kelas XI dan lantai 1 untuk anak kelas X. Dilorong asrama lantai 2 aku berpapasan dengan Adelia, adik kelas yang cukup dekat denganku. “Mau kemana kak?” tanyaya antusias. “Nggak tau ni Del, kakak suntuk aja dikamar jadi pengen keluar “ tak sengaja kuarahkan pandanganku ke tanganya yang sedang menjinjing plastic dengan merek supermarket terdekat. “ abis belanja nih Del?” Adelia menggoyangkan plastic belanjaanya “ Ha … ha … ha … ia nih kak, ke kamar aku yuk, dikamar aku kosong temen-temen pada keluar. Sekalian kita cerita-cerita juga, udah lama kita nggak cerita-cerita kan?” aku menanguk pertanda setuju “ Kayaknya nggak ada ruginya tuh … “ kami pun tertawa.
“ Ha? Serius kak, kakak suka sama bang Radit, kakak kelas kita yang kuliah di UIN SUSKA itu? Yang ngambil jurusan TKJ itu? “ softdrink yang dituangkan Adelia hampir tumpah jika ia tidak langsung menyadarinya setelah mendengar penuturanku. “ Ia del, bang Radit.” Jawabku tersipu malu. “ Aku nggak tau yang mana sih kak, cuman aku tau dia dari poto di FB dia. Trus dia-nya gimana ke kakak?” agak ragu aku menjawab pertanyaan Adel, memang sih akhir-akhir ini aku dan bang Radit rajin sms an. Tapi dengan dia membalas smsku bukan berarti dia juga punya perasaan yang sama denganku kan “ emm … gimana ya Del, kakak sama dia sih baru tahap pendekataann aja kok  Del.” Adel manggut-manggut sepertinya ia mengerti dengan apa yang baru saja ku jelaskan “ Adel jadi penasaran deh kak sama bang Radit, kayak gimana sih orangnya?” aku teringat sesuatu, sepertinya bang Radit dalam smsnya beberapa hari yang lalu bahwa hari senin ia akan bekunjung ke asrama kami, maklum alumni biasanya memang suka berkunjung jika kuliahnya sedang libur.  “ Kalo nggak salah bang Radit bilang hari senin mau main kesini, besok deh kamu kakak kenalin.”
Senin yang dinanti tiba, aku mengenalkan bang Radit pada Adelia. kami ngobrol di kantin bertiga, tapi tampaknya Adelia kurang interest terhadap topic yang kami bicarakan.
Semenjak hari itu aku jarang bertemu dengan Adelia lagi,aku yang notabenenya sudah duduk di kelas XII semester akhir disbukkan dengan sesuatu hal yang berbau ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi negri. Harus ikut bimbel, les dan sebaginya membuat sisa waktuku di SMA ini menjadi semakin padat. Tidak ada berinteraksi dengan dunia luar selain guru teman-teman satu angkatan dan keluarga untuk mendapatkan dukungan moril.
Seminggu setelah ujian nasinal selesai barulah aku bisa merasa agak sedkit santai,tinggal menunggu detik-detik pengumuman kelulusan dan setelah lulus menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa jalur undangan. Untuk mengisi waktu luang aku iseng-iseng membuka jejaring social yang sudah lama sekali rasanya aku tidak menjamahnya, FACEBOOK. Kumasukkan alamat e-mail dan pass ku, munculah beranda. Kulihat-lihat status teman mayaku itu. Ketika kursor kearahkan kebawah, aku menemukan pergantian status seseorang, dan ini sungguh membuatku SHOCK.
Adelia Lupita Arm berpacaran dengan Radit Raditya Fokee.
6 menit yang lalu. Suka . komentari .
Aku tertegun sesaat, untuk lebih meyakinkan lagi ku-klik akun Adelia Lupita Arm dengan nama itu. Benar itu memang milik Adelia, aku masih belum percaya aku klik lagi akun dengan nama Radit Raditya Fokee itu. JEDARRRR akun itu memang miik bang Radit. Tamat. Rasanya ingin kubakar diriku sendiri, kucubiti leganku. Aku berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi ini terlalu nyata jika disebut mimpi.
Lama aku menatap status itu setelah akhirnya kuputuskan untuk mengomentari statusnya.
Selamat ya … semoga langgeng J
Tak selang beberapa menit kemudian ponselku bergetar, sebuah sms masuk.
From : my lovely sister adelia
Ya ampun, sumpah setelah ini aku ganti nama kontaknya dengan sumpah serapah. Aku memang terlalu baik atau aku memang sangat bodoh? Entahlah …
Kubuka sms darinya
Aku tahu aku dan dia bukanlah mahluk sempurna. Hanya mengikuti alur hidup, dan mengikuti apa kata hati. Jika sudah begitu apakah kami salah? Kami tidak merencanakanya dari awal. Aku juga dia tidak tahu kapan dan bagaimana ini bisa terjadi?aku hanya berharap kakak mengerti. Aku minta maaf …
Apa ini, apa maksudnya? Dia minta maaf seolah-olah dia tidak bersalah? Seolah-olah ini bukan kesalahan mereka? DAMN. Kenapa seolah-olah dia berkata aku jahat dan tidak merestui hubungan mereka hanya karena aku memiliki perasaan pada-nya. Jika kenyataanya Adelia mengenal bang Radit karena bukan aku yang mengenalkanya mungkin tidak akan sesakit ini. Jika kenyataanya Adelia tidak pernah tahu aku menyukai bang Radit mungkin tidak akan terasa sesakit ini.Saat-saat seperti ini aku baru menyadari bahwa AKU SANGAT BODOH.
*****************
Besok, 22 mei adalah ulang tahun apis yang ke-20. Sudah kupersiapkan semuanya, kado untuknya dan semua hal yang berkaitan dengan acara “mengerjai-nya” pun sudah kupersiapkan dengan matang. Dari ke toko kue, searching barang yang lagi dicem-cemin sama dia,  bbm in temen sampai diskusi panjang mengenai acara ultah dia sudah aku lakukan jauh-jauh hari. Sekali lagi aku tersenyum menimang kado untuk apis, “semoga besok lancar dan sukses …” 
Aku ambil bb ku, ku bbm teman-temanku sekedar untuk mengingatkan mereka akan acara nanti malam.

0 komentar: