Lo(Ro)vaHolic
Aleo Vristila
Aku hanya berani menatapnya dari jarak sejauh ini. Dia
yang sedang bercanda gurau bersama teman lainya. Setiap gelak tawanya diikuti
dengan kibasan rambutnya, sumpah itu keren BANGET.
Kami yang terdiri dari tujuh orang mahasiswa FH sedang
menjenguk teman sekelas yang mengalami gejala thypus, maklum anak kost. Tiga
orang perempuan dan empat orang laki-laki, Aku, Silvi, Dian, Dewo, Apis, Fajar,
dan Angga. Kami menunggu didepan ruangan Rintan, mahasiswa yang sedang dirawat.
Aku, Silvi dan Dian duduk di kursi panjang yang sama, sedangkan Dewo, Apis,
Fajar dan Angga duduk berseberangan dengan kami.
Mungkin mereka juga sudah tau, aku SUKA sama APIS. Itu
sebabnya kadang mereka mengolok kami, bahkan memberi kami ruang untuk saling
mendekat, mungkin lebih tepatnya memberi aku. Seperti kali ini, mereka
meninggalkan kami, Aku dan Apis berdua SAJA. “ Va, besok rambutnya jangan
dipotong lagi ya …” Apis mengatakanya sambil mengacak rambutku pelan. “Apis,
tuh kan rambut Rova kusut, emang kenapa pis kalo rambut Rova pendek?” aku
merapikan kembali rambutku yang sedikit berantakan. “ Nggak apa-apa sih, cuman
Apis suka aja liat cewek yang rambutnya panjang. Terus rova REBONDING deh.”
Apis menatapku dalam, aku yang sadar dia sedang menatapku langsung mengalihkan
pandanganku. “Pis, Rova boleh nanya sesuatu nggak?” aku masih belum berani
menatap mukanya. “Nanya aja Va?” Apis mengalihkan pandanganya kedepan, setelah
yakin dia tidak menatapku kini giliran aku yang menatapnya. “ Apis sebenarnya
tau perasaan Rova nggak sih?” Apis terlihat tertarik mengenai topic yang akan
kami bahas, ia kembali menatapku. “ Perasaan? Maksud Rova perasaan apa?” Apis
mengerutkan keningnya. “ Perasaan Rova, kalo Rova … kalo Rova sayang Apis! “
aku sedikit menundukkan wajahku. Sepertinya Apis tidak terlalu terkejut dengan
pernyataanku barusan. “ Apis juga sayang sama Rova, tapi Rova taukan Apis nggak
mau orangtua Apis kecewa sama Apis.” Apis menatapku tajam, ada pancaran
bersalah dari matanya, aku membalasnya dengan senyuman. “ Rova tau kok Pis,
Rova ngerti. Makasih ya Apis mau sayang sama Rova, Apis mau balas BBM Rova,
deket sama Rova.” Mataku mulai terasa perih, aku bersumpah akan menusuk mataku
jika berani mengeluarkan air mata didepan Apis. “ Yaudah, kita susul yang
lainya kedalam yuk” Apis menggandeng tanganku.
Sesampainya dikost aku tak tahan lagi, tumpah sudah
semua air mataku. Kisah cintaku memang tak pernah semulus teman-temanku, tidak
seperti Tyara yang dua minggu sekali bisa berganti-ganti pasangan, tidak
seperti Silvi yang pacarnya cinta setengah mati padanya. Dari SMA kisah cintaku
begini-gini saja, semua lelaki itu sama PHP-Pemberi Harapan Palsu. Di-SMA aku
juga seperti ini, mencintai kakak kelas, diberi harapan dan buntutnya dia
berpacaran dengan orang lain. Yang lebih menyakitkan lagi orang lain itu adalah
seseorang yang sudah kuanggap sebagai adik sendiri.
***************
Sejak tadi aku hanya memandangi kedua sahabatku secara
bergantian, Lian ke Tyara, Tyara ke Lian. Kudekati Lian yang sedang berkutat di
depan Laptop Tyara, rupanya dia sedang membuka jejaring social yang sedang
booming, TWITTER. Kudengar dia sedang dekat dengan teman dunia mayanya,
seingatku namanya Febri. Ntah akan sampai kemana hubungan didunia maya seperti
itu, apakan mereka akan berpacaran? Who know? “Yan …” aku mencoba mengusiknya.
“Apasih Va, mau curhat? Nanti aja ya kalo udah mau bobo” tuh kan dia gak mau
diganggu. Sekarang aku beralih ke Tyara, dia tampak senyum-senyum pada
Blackberry barunya itu. Aku yakin dia bukanya tersenyum pada Blackberry-nya.
Tapi pada pacarnya yang juga baru, Natan. Bisa dibilang mereka pasangan
ter-COCOK satu sekolah, gimana nggak Natan tuh pujangganya SMA 25, udah sering
dia ikut lomba buat puisi dan dia selalu keluar jadi JAWARA. Sedangkan Tyara
tuh, pembaca puisi terfenomenal yang pernah dimilikin SMA 25 piala yang dia
sumbangin untuk sekolah udah banyak banget.
Sudah aku putuskan untuk menunda acara curhatku. Aku
melangkah keluar kamar, kulirik sekali lagi ternyata mereka tidak memperdulikan
aku. “ Yan, Ty aku keluar bentar ya … “ mereka berdua dengan kompak menatapku.
“ Oh, ya …” jawaban Lian sungguh singkat, kemudian ia melanjutkan lagi aktifitasnya.
“ Mau kemana Va?” Tyara menanyaiku.” Keluar bentar …” kulanjutkan langkahku.
“Hati-hati” suara Tyara terdengar samar ketika aku akan menutup pintu.
Aku tergolong siswa yang beruntung bersekolah di
sekolah bertaraf internasional dan memiliki sisitem BOARDING SCHOOL. Hampir 60%
siswa yang sekolah disini adalah mereka yang lulus dalam program beasiswa
pemerintah, dan sisanya mereka yang memiliki kelebihan uang. Menurutku, aku
tidak terlalu pintar dan tidak memiliki kelebihan yang spesifik tidak seperti
kedua sahabatku Lian yang punya kelebihan dalam bidang hapalan dan Tyara yang
mantap banget sama sastranya. Mungkin dengan sedikit keberuntungan dan do’a
orang tua maka aku terpilih dalam deretan siswa SMA 25.
Aku menuruni tangga menuju lantai 2, kamarku Lian,
Tyara serta anak kelas XII di lantai tiga, lantai 2 untuk anak kelas XI dan
lantai 1 untuk anak kelas X. Dilorong asrama lantai 2 aku berpapasan dengan
Adelia, adik kelas yang cukup dekat denganku. “Mau kemana kak?” tanyaya
antusias. “Nggak tau ni Del, kakak suntuk aja dikamar jadi pengen keluar “ tak
sengaja kuarahkan pandanganku ke tanganya yang sedang menjinjing plastic dengan
merek supermarket terdekat. “ abis belanja nih Del?” Adelia menggoyangkan
plastic belanjaanya “ Ha … ha … ha … ia nih kak, ke kamar aku yuk, dikamar aku
kosong temen-temen pada keluar. Sekalian kita cerita-cerita juga, udah lama
kita nggak cerita-cerita kan?” aku menanguk pertanda setuju “ Kayaknya nggak
ada ruginya tuh … “ kami pun tertawa.
“ Ha? Serius kak, kakak suka sama bang Radit, kakak
kelas kita yang kuliah di UIN SUSKA itu? Yang ngambil jurusan TKJ itu? “
softdrink yang dituangkan Adelia hampir tumpah jika ia tidak langsung
menyadarinya setelah mendengar penuturanku. “ Ia del, bang Radit.” Jawabku
tersipu malu. “ Aku nggak tau yang mana sih kak, cuman aku tau dia dari poto di
FB dia. Trus dia-nya gimana ke kakak?” agak ragu aku menjawab pertanyaan Adel,
memang sih akhir-akhir ini aku dan bang Radit rajin sms an. Tapi dengan dia
membalas smsku bukan berarti dia juga punya perasaan yang sama denganku kan “
emm … gimana ya Del, kakak sama dia sih baru tahap pendekataann aja kok Del.” Adel manggut-manggut sepertinya ia
mengerti dengan apa yang baru saja ku jelaskan “ Adel jadi penasaran deh kak
sama bang Radit, kayak gimana sih orangnya?” aku teringat sesuatu, sepertinya
bang Radit dalam smsnya beberapa hari yang lalu bahwa hari senin ia akan
bekunjung ke asrama kami, maklum alumni biasanya memang suka berkunjung jika
kuliahnya sedang libur. “ Kalo nggak
salah bang Radit bilang hari senin mau main kesini, besok deh kamu kakak
kenalin.”
Senin yang dinanti tiba, aku mengenalkan bang Radit
pada Adelia. kami ngobrol di kantin bertiga, tapi tampaknya Adelia kurang
interest terhadap topic yang kami bicarakan.
Semenjak hari itu aku jarang bertemu dengan Adelia
lagi,aku yang notabenenya sudah duduk di kelas XII semester akhir disbukkan
dengan sesuatu hal yang berbau ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi
negri. Harus ikut bimbel, les dan sebaginya membuat sisa waktuku di SMA ini
menjadi semakin padat. Tidak ada berinteraksi dengan dunia luar selain guru
teman-teman satu angkatan dan keluarga untuk mendapatkan dukungan moril.
Seminggu setelah ujian nasinal selesai barulah aku bisa
merasa agak sedkit santai,tinggal menunggu detik-detik pengumuman kelulusan dan
setelah lulus menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa jalur undangan. Untuk
mengisi waktu luang aku iseng-iseng membuka jejaring social yang sudah lama
sekali rasanya aku tidak menjamahnya, FACEBOOK. Kumasukkan alamat e-mail dan
pass ku, munculah beranda. Kulihat-lihat status teman mayaku itu. Ketika kursor
kearahkan kebawah, aku menemukan pergantian status seseorang, dan ini sungguh
membuatku SHOCK.
Adelia Lupita Arm berpacaran dengan Radit Raditya
Fokee.
6 menit yang lalu. Suka . komentari .
Aku tertegun sesaat, untuk lebih meyakinkan lagi
ku-klik akun Adelia Lupita Arm dengan nama itu. Benar itu memang milik Adelia,
aku masih belum percaya aku klik lagi akun dengan nama Radit Raditya Fokee itu.
JEDARRRR akun itu memang miik bang Radit. Tamat. Rasanya ingin kubakar diriku
sendiri, kucubiti leganku. Aku berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi ini terlalu
nyata jika disebut mimpi.
Lama aku menatap status itu setelah akhirnya kuputuskan
untuk mengomentari statusnya.
Selamat ya … semoga langgeng J
Tak selang beberapa menit kemudian ponselku bergetar,
sebuah sms masuk.
From : my lovely sister adelia
Ya ampun, sumpah setelah ini aku ganti nama kontaknya
dengan sumpah serapah. Aku memang terlalu baik atau aku memang sangat bodoh? Entahlah
…
Kubuka sms darinya
Aku tahu aku dan dia bukanlah mahluk sempurna. Hanya
mengikuti alur hidup, dan mengikuti apa kata hati. Jika sudah begitu apakah
kami salah? Kami tidak merencanakanya dari awal. Aku juga dia tidak tahu kapan
dan bagaimana ini bisa terjadi?aku hanya berharap kakak mengerti. Aku minta
maaf …
Apa ini, apa maksudnya? Dia minta maaf seolah-olah dia
tidak bersalah? Seolah-olah ini bukan kesalahan mereka? DAMN. Kenapa
seolah-olah dia berkata aku jahat dan tidak merestui hubungan mereka hanya
karena aku memiliki perasaan pada-nya. Jika kenyataanya Adelia mengenal bang
Radit karena bukan aku yang mengenalkanya mungkin tidak akan sesakit ini. Jika
kenyataanya Adelia tidak pernah tahu aku menyukai bang Radit mungkin tidak akan
terasa sesakit ini.Saat-saat seperti ini aku baru menyadari bahwa AKU SANGAT
BODOH.
*****************
Besok, 22 mei adalah ulang tahun apis yang ke-20. Sudah
kupersiapkan semuanya, kado untuknya dan semua hal yang berkaitan dengan acara
“mengerjai-nya” pun sudah kupersiapkan dengan matang. Dari ke toko kue,
searching barang yang lagi dicem-cemin sama dia, bbm in temen sampai diskusi panjang mengenai
acara ultah dia sudah aku lakukan jauh-jauh hari. Sekali lagi aku tersenyum menimang
kado untuk apis, “semoga besok lancar dan sukses …”
Aku ambil bb ku, ku bbm teman-temanku sekedar untuk
mengingatkan mereka akan acara nanti malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar