Bab I Mean's Of Hijab
Kau tahu, malam ini aku berpikir tentang semuanya. Tentang aku, kesalahanku, kekhilafanku. Aku malu, bila harus mengadu kepada sang pencipta. Karena terlalu sering aku memohon, aku berjanji untuk tak mengulang kekhilafanku. Ini bukan kali kedua atau yang ketiga, entah sudah yang keberapa puluh aku tak sempat menghitungnya. Aku berjanji untuk melakukan tobatan nasuha, aku justru takut jika aku kembali berjanji maka Tuhan akan mencapku bermain-main saja. Setiap kali aku tersadar, itu hanya akan berada dalam hitungan hari saja selanjutnya kata-kata setan lebih mendominasiku.
***
Hari ini, dengan niatan membara aku sengaja berkunjung ke sebuah rumah seorang Ustad di kampungku. Lebih tepatnya beliau adalah guru SMPku dulu. Selain untuk bersilaturahim ada beberapa hal yang ingin kupertanyakan pada beliau mengenai hijab. Yah, aku benar-benar ingin bertobatan nasuha. Mungkin dengan hijab akan lebih memantapkan niatku ini. Di otakku, selama perjalanan menuju rumah beliau bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang membuat niatku semakin membara. '' Asalamualaikum ...''
'' waalaikumsalam ...'' jawab seorang wanita yang keluar dari rumah yang menjadi tujuanku.
Aku mendekat kepadanya, mencium punggungtelapak tanganya. Memperlihatkan ''aku'' seorang gadis yang baik dan penuh tata krama. Aku? Baik dan penuh tata krama? Sungguh, terkadang aku sangat malu pada mereka. Mereka selalu memuji aku demikian. Aku merasa sangat berdosa mereka mencapku seperti itu, karena mereka tak melihat aku dari dalam mereka hanya menilai coverku saja. Bukan, bukan mereka yang menilai. Tapi aku dengan sengaja menciptakan imej aku '' sopan dan penuh kesopanan'' dihadapan mereka.
'' bapak, ada bu ... ? '' tanyaku dengan lembut pada wanita ini, yang notabenenya adalah istri dari ustad yang sangat aku ingini pendapatnya itu.
'' ada, ayo nak yuki masuk saja ... '' jawab wanita dengan jilbab yang selalu menutup mahkotanya itu.
'' trimakasih bu ... '' ku ikuti langkah beliau yang lebih dulu mendahuluiku.
Kami berhenti di ruang keluarga. Tidak terlalu besar, sederhana, namun sarat dengan suasana kental kekeluargaan.
'' nah, nak yuki tunggu disini dulu ya, ibu panggilkan bapak ... ''
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Si ibu sudah masuk ke ruangan lain yang tak aku ketahui namanya.
Tak lama keluarlah seorang bapak, yang terlihat aura kebapakan arif.
Sama halnya dengan apa yang kulakukan terhadap istrinya, kucium punggung telapak tanganya. Beliau mempersilahkanku duduk.
Setelah dengan sedikit ber ba bi bu, akhirnya aku mengutarakan apa maksud tujuanku.
Beliau memperhatikan semua pertanyaan yang aku tanyakan dengan lugas. Setelah aku selesai, beliau tersenyum.
''hijab, bukanlah suatu permainan nak yuki, yang bisa kamu lakukan ketika kamu ingin, dan jika kamu bosan bisa kamu tinggalkan''
Keningku berkerut, mengisyaratkan aku tak memahami ucapanya yang sarat akan makna tersebut.
'' bapak tau, nak yuki saat ini memang sangat membara ....tapi, bapak merasakan nak yuki menyembunyikan sesuatu dari bapak, apakah ada alasan lain sehingga nak yuki memutuskan untuk berhijab? Tanya ustadz yang memiliki nama lengkap Muhammad Nur Maulana ini dengan sangat hati-hati.
Tidak, kenapa ustad bisa tau aku menyembunyikan sesuatu atau wajahku memang tidak bisa melakukan kerja sama. Ah, entahlah saat ini aku hanya memikirkan jawaban apa yang patut aku berikan kepada ustadz yang kusegani ini. Hal konyol sangat konyol jika aku jujur.
'' tidak ada ustad, aku hanya ingin menjadi muslimah dari dalam maupun dari luar.'' jawabku bergetar.
Bab II Aku Dalam Masa Lalu
Dilahirkan dari pasangan Andre Taulany dan Olla Ramland. Terlahir dengan nama lengkap Yuki Ayu Taulany. Membuat Yuki tidak pernah merasa sedikitpun sengsara dalam hidupnya. Ayahnya yang bekerja pada dinas peternakan kota Pekanbaru, serta seorang peternak bebek yang sukses. Ibunya seorang wanita yang berpengaruh dalam berbagai organisasi sosial di Pekanbaru dan sekitarnya. Memiliki distro dan rumah makan yang memiliki cabang di setiap daerah di seantaro Riau ini. Itu semua membuat dua orang penting dalam hidupnya ini memiliki jam luar rumah yang mendominasi dalam hidup mereka. Seperti anak pengusaha sukses lainya, yuki hidup dalam kemewahan, yah walaupun di sisi yang lain Yuki adalah seorang gadis yang kurang mendapat perhatian serta kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tapi hal ini tidak membuatnya menjadi seorang gadis brutal, ia bahkan menjadi seorang gadis yang sangat mengenal agama berprestasi memiliki banyak teman serta orang-orang yang menyayanginya. Selalu mendapat peringkat dari sekolah tingkat dasar dan lulus dengan nilai tertinggi pada sebuah sekolah menengah atas ternama di kota Pekanbaru. Lulus dalam perguruan tinggi negri ibukota negara dengan jurusan fashion designer membuat setiap kolega ayah maupun ibunya mencap anak kepala dinas peternakan ini seorang gadis sopan dan sangat diincar menjadi menantu idaman bagi mereka yang memiliki anak laki-laki sebaya dengan Yuki. Jika soal wajah, jangan ditanya lagi dengan kulit putih berseri, pipi chubby dan wajah gadis asia membuatnya menjadi sangat terkenal diantara kaum adam. Tapi Yuki yang mempunyai penampilan diatas rata-rata ini bahkan tidak mempunyai daftar panjang nama-nama laki-laki yang pernah mewarnai kehidupan asmaranya. Ia hanya satu nama laki-laki yang pernah menorehkan namanya dalam daftar cintanya itu. Seorang ketua osis di SMA nya, itupun karena paksaan Ibunya, karena laki-laki ini adalah anak dari rekan kerjanya, ibunya sangat berharap lebih pada hubungan ini namun sayang hubungan ini harus kandas sebelum ujan akhir nasional.
Hidup seorang diri di ibukota negara pada sebuah apartemen, pada awalnya tidak mengubah pola hidupnya. Masih seperti yang dulu, taat pada agama, rajin dan sangat menawan. Hingga ia mengenal seorang pria metropolitan dengan segala pesonanya.



















0 komentar: